Kapal Karam di Taiwan, 1 WNI Tewas 3 Belum Ditemukan
Kategori Tenaga Kerja Indonesia - 21 September 2015 WIB

Kapal Karam di Taiwan

Identitas Kapal:

1.  Kapal Jui Hsing milik Taiwan
Botot: 11.500 ton

2.  Kapan Nelayan milik Shih Hui 31

Korban:
1.Kusnanto asal Brebes, Pass. AS823026 (Meninggal dunia dan jenazah sudah ditemukan)
2.Kusnali asal Brebes, Pass. AT400324 (Belum ditemukan) 
3.Sanip asal Karawang, Pass. 8048258 (Belum ditemukan)
4.Tasan asal Brebes, Pass. A8968123 (Belum ditemukan) 

Tempat:
Perairan Chuwei, sebelah utara Taiwan

Waktu:
Jum’at (18/9/2015) pagi

Kronologis:
Seorang warga negara Indonesia tewas dalam kecelakaan kapal di Taiwan, kantor berita AFP melaporkan, Selasa (4/10/2011) malam.

WNI itu adalah satu dari enam korban tewas ketika Kapal Jui Hsing milik Taiwan tenggelam tak lama setelah kapal berbobot 11.500 ton itu meninggalkan Pelabuhan Keelung, Taiwan, menuju Fujian, China, Senin (3/10/2011).

Petugas pertolongan Taiwan yang mencari korban di lepas pantai Keelung di bagian utara negeri itu menemukan dua jenazah, Selasa, sehingga jumlah pelaut yang dikonfirmasi tewas jadi enam.

"Dua mayat hanyut ke pantai hari ini," kata seorang pejabat di Pusat Komando Penyelamatan Nasional.

Di antara korban yang tewas, tiga orang berasal dari Taiwan, termasuk kapten kapal Kuo Tai-Sheng, satu orang dari Myanmar, dan satu dari Indonesia. Kewarganegaraan korban terakhir belum diidentifikasi.

Pencarian empat anak buah kapal yang masih terdaftar sebagai hilang terhambat oleh cuaca buruk, kata Dinas Penjaga Pantai.

Kapal itu terkoyak dua akibat terjangan gelombang besar yang dipicu angin dahsyat sehingga memaksa beberapa dari 21 awak kapal melompat ke laut di tengah gelombang tinggi. Sebelas orang diselamatkan atau berenang menyelamatkan diri.

Kecelakaan tersebut memicu operasi pembersihan darurat oleh dinas perlindungan lingkungan sebab mereka khawatir ratusan ton minyak mungkin telah bocor dari tangki bahan bakar kapal itu ke laut.

Tayangan televisi memperlihatkan puluhan pekerja yang mengenakan peralatan perlindungan warna putih dan menggunakan peralatan penyerap untuk membersihkan jalur pantai yang terancam oleh minyak yang bocor yang diperkirakan sepanjang tiga kilometer.

"Kapan saja cuaca memungkinkan, kami akan memasang ’boom’ di sekitar kapal yang karam untuk membatasi penyebaran minyak yang tumpah," kata Shen I-fu, pejabat di Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup.

Source:
- internasional.kompas.com
- news.detik.com 
- www.merdeka.com
- dunia.tempo.co



Komentar
Tidak Ada Komentar
Tinggalkan Komentar
:
:
: